upacara Mitoni pada adat Jawa


sumber gambar:



Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu akan makna dari mitoni pada masyarakat atau budaya Jawa juga menerangkan bagaimana upacara mitoni tersebut berkangsung.


Pendahuluan

Di dalam masyarakat Jawa, istilah mitoni sangatlah tidak asing. Apa itu mitoni? Mitoni adalah sebuah upacara adat Jawa yang dilakukan pada saat seorang wanita telah mengandung janin selama tujuh bulan dengan maksud agar wanita tersebut dan bayi yang akan dilahirkan pada bulan kelahirannya akan lahir dengan selamat. Mitoni itu sendiri memiliki makna suatu kegiatan yang dilakukan pada hitungan ke tujuh.


Informan yang ditunjuk dalam penelitian ini adalah orang-orang masyarakat Jawa yang memahami makna upacara mitoni dan juga pasangan yang pernah melakukan upacara mitoni.


Pertanyaan-pertanyaan etnografis yang diajukan dalam wawancara antara lain:
Q : Apakah kegunaan dari upacara Mitoni dalam masyarakat Jawa?
A : Mitoni adalah suatu adat Jawa yang dijalankan secara turun menurun. iraman dari kata siram artinya mandi. Mitoni mempunyai tujuan untuk mensucikan lahir batin tidak hanya bagi calon ibu tetapi juga bayi dalam kandungan,selain itu mitoni dilangsungkan agar bayi dalam kandungan lahir dengan sehat.

Q: Lalu, bagaimana cara upacara mitoni dilakukan?
A: Yang pertama yaitu siraman, yang pertama “menyiram” dalam upacara mitoni ini adalah  calon kakek. Selanjutnya adalah acara memasukkan telur ayam kampong oleh suami sang calon ibu kedalam kain calon ibu. Kemudian diikuti dengan acara-acara lainnya seperti ganti busana, memutus janur dan sebagainnya.

Q: Bagaimana apabila upacara mitoni tidak dilakukan?
A: Apabila tidak dilakukan dikhawatirkan akan membawa petaka bagi calon ibu dan jabang bayi, karena tujuan dari upacara mitoni ini adalah untuk menghindari petaka. Apalagi upacara ini sudah dilangsungkan oleh masyarakat suku Jawa secara turun menurun tentunya apabila tidak dilakukan sama saja dengan tidak mengakui budaya sendiri, dan tidak menghayati kepercayaan kepercayaan leluhur. Hal ini akan berdampak buruk bagi mereka yang mengabaikannya.

Dari wawancara diatas, dapat diketahui bahwa masyarakat bersuku Jawa melakukan upacara Mitoni karena merupakan tradisi yang harus dilakukan untuk menghindari petaka. Makna dari upacara mitoni ini adalah untuk keselamatan calon ibu dan bayi yang dikandungnya,dan upacara sacral tersebut dilakukan di usia ke tujuh bulan kandungan.



ditulis oleh LIBERTY RHOSA (10606104/4SA01)

Wawancara Etnografis. Bagaimana Seorang Peneliti Etnografis Melakukannya?


                     

                       Berikut ini saya akan menjelaskan secara singkat tentang cara seorang etnografis melakukan wawancara etnografis. Metode etnografis mampu mendeskripsikan fakta mengenai tingkah laku suatu masyarakat. Dalam pengumpulan data-data dari objek yang diteliti, wawancara etnografis sangat dibutuhkan sebagai sumber data utama dan acuan dalam membuat suatu kesimpulan. Sebelum melakukan wawancara etnografis, tentunya seorang peneliti harus memilih seorang informan yang terpercaya. Dalam hal ini,kemampuan berbahasa sangat dibutuhkan agar dapat melakukan komunikasi yang baik dengan informan yang ditentukan. Sebelum membahas lebih lanjut, saya akan menuliskan kutipan dari Spradley tentang cara memilih informan:



"Elkulturasi penuh, keterlibatan langsung, suasana budaya yang tidak dikenal,waktu yang cukup,non-analitis” (Spradley)

Setelah memilih seorang informan yang baik, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan etnografis kepada informan yang bersifat struktural, kontras, dan deskriptif. Kemudian peneliti mencatat/merekamnya juga mendokumentasikan objek yang diteliti. Setelah melakukan wawancara etnografis, peneliti harus menganalisa lebih jauh hasil wawancara tersebut lalu setelah itu, peneliti membuat catatan etnografis. Lagi-lagi penguasaan bahasa berperan penting, mengapa? Karena seorang etnografer harus mampu membuat analisis berdasarkan apa yang telah didapat selama penelitian. Lalu,


 Apa bedanya wawancara etnografis dengan percakapan persahabatan?




Dalam hal ini wawancara etnografis dan persahabatan memiliki banyak perbedaan. Beberapa diantaranya yaitu: Dalam wawancara persahabatan, peneliti berdialog dengan unsure kalimat sapaan, mengungkapkan minat, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan tidak melakukan pengulangan. Berbeda jauh dengan wawancara etnografis, di dalam wawancara etnografis, wawancara lebih bersifat formal, peneliti etnografis diharuskan memberi tahu kepada informan tentang maksud dan tujuan dari suatu penelitian tersebut secara berulang.

Biasanya gaya percakapan persahabatan digunakan dalam wawancara etnografis agar wawancara lebih terbuka dan lebih santai sehingga seorang informan yang diwawancari lebih terbuka saat menjawab pertanyaan.



Liberty Rhosa (10606104 / 4sa01)